SAPTA

Standar

Sudah 1 jam aku duduk di cafe ini, bersama 6 orang lain yang entah apa kepentingannya.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan salah seorang dari mereka. “Ayam itu!”, teriaknya ke temannya yang sedang menghampiri seorang wanita muda yang duduk menatap layar hapenya. Si teman kemudian membicarakan sesuatu dengan wanita muda itu dan tak lama kemudian kembali ke om teriak.

Perhatianku teralih ke pasangan yang duduk di meja sebelah. Si wanita berkerudung sibuk membongkar tas ranselnya, sementara si pria hanya menatapi barang-barang yang dikeluarkan si wanita berkerudung sambil menyesap kopinya.

Lalu ada kaos yang terjatuh dari ransel si wanita berkerudung dan tampaknya tak disadarinya. Aku mengambil kaos itu, lalu memberikan kepadanya. Si wanita berkerudung menghentakkan kaos itu dari tanganku, memasukkannya ke ransel tanpa mengatakan apapun.

Aku pun kembali menekuri kopiku, kopi yang entah kenapa kupesan padahal aku tidak minum kopi.

Si om teriak dan temannya kemudian beranjak pergi, sebelumnya mereka menghampiri si wanita muda dan keluar bersama. Salah satu dari mereka mengaitkan tangannya di pinggang wanita muda itu.

“Benar ayam berarti.”, batinku menghakimi.
Hanya satu pria yang sepertinya tidak terganggu dengan semua yang terjadi, terlalu terpaku dan sibuk dengan laptopnya. Sebelumnya seorang barista meneriakkan pesanannya yang telah selesai pun tak dianggapnya.

Aku kembali ke gelasku yang tak berkurang sedikitpun isinya. 
Sepertinya memang dia tidak akan pernah datang menepati janjinya. Janji yang diucapkan setahun yang lalu, janji yang kemudian muncul tiba-tiba di kalender hapeku dan berusaha untuk aku tepati.

Ku hela napas panjang, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan kopi yang masih utuh. Merelakannya dingin dan tak tersentuh, sama seperti aku harus merelakan dia yang pergi selamanya, setahun yang lalu, tidak lama setelah mengucapkan janji ini.

Mengejar Abekani. Tak semudah ucapan, tapi tak sesulit yang dibayangkan.

Standar

Di suatu grup lovers kulit, memiliki salah satu produknya kadang dianggap suatu impian yang tidak masuk akal. Membernya yang tidak terkira banyaknya, sudah pasti persaingan menjadi tidak sehat. Upaya apa saja dilakukan saat ada NL, bahkan “senggol bacok” juga dilakukan kalau bisa.

Ada yang pernah dengar tentang Abekani? Belum? Jangan khawatir, mungkin kalian belum termasuk golongan penyuka produk kulit lokal (semoga tetap seperti itu, jadi saingan tidak bertambah banyak). 

Yang sudah tau, pasti ngerti banget bagaimana beratnya perjuangan mendapatkan salah satu produknya dengan harga normal.

Baru-baru ini, Abekani mengumumkan cara terbaru untuk mendapatkan produknya di Fanspage Facebook-nya.Yaitu, dengan masuk ke grup loversnya, Abekani(an) Lovers.

Sebenarnya banyak sekali cara buat dapetin produk Abekani. Bocoran sedikit ya buat yang belum tau, tapi tidak semua cara yang dijabarkan ini dianjurkan. Karena beberapa cara justru akan membuatmu diblok keanggotaannya dari grup ini.

1. POSTINGAN FP ABEKANI JOGJA

Cara ini sekarang tidak bisa terlalu diharapkan, karena sistemnya sudah berbeda. Mungkin sesekali akan ada postingan jualan ready stock, tapi tidak bisa dipastikan keadaannya. Kalau mantengin FP, kelamaan kaya pungguk merindukan bulan. Cuman tetep akuh dong bulannya. ~minta ditabok orang banyak nih penulisnya~

2. POSTINGAN WEB ABEKANI JOGJA

Kondisinya tidak jauh berbeda dengan postingan di Fanspage, jadi jangan terlalu berharap banyak ada postingan di web ini ya.

3. POSTINGAN NL DI GRUP FACEBOOK ABEKANI(AN) LOVERS

Saat ini, postingan ready stock di grup AL (sebutan untuk grup ini) dilakukan setiap hari jumat. Jumlah ready stocknya mungkin tidak sebanding dengan jumlah member grupnya. Tapi dengan pemberlakuan embargo 4x NL, diharapkan pembagian tasnya bisa merata. Namun, untuk beberapa kalangan, cara ini pun masih dianggap belum cukup. Sehingga memunculkan golongan/kaum baperian, yang merasa direpotkan dengan sistem ini. 😝

4. MEMBUAT POSTINGAN WL DI GRUP AL

Jangan abaikan cara yang satu ini, tidak sedikit dari kakak-kakak cantik yang memposting wl-nya dan berhasil mendapat tas impiannya. Mungkin cara ini dianggap merepotkan juga oleh beberapa orang, terkadang cukup lama juga pe-wl bisa mendapatkan tas impiannya. Tak jarang, sampai bosen pe-wl posting, masih belum dapet juga tas yang di-mau.

5. MASUK GRUP WILAYAH

Di AL, setiap wilayah mempunyai Koordinator Wilayah dan Grup Wilayah untuk mempermudah para anggotanya untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi. Di grup ini terkadang ada PO khusus, tapi PO ini tidak bisa terlalu diharapkan juga, karena tidak setiap saat ada. Selain via medsos, ada acara offline grup yang sering disebut meetup atau kopdar.

6. JALIN SILATURAHMI ONLINE MAUPUN OFFLINE DENGAN MEMBER AL TANPA TERPAKU WILAYAH

Dengan meluasnya pertemanan, info mengenai cara memperoleh tas, info siapa-siapa saja yang sering menjadi ibu peri dan siapa yang mau melepas tasnya, bakalan dengan mudah didapatkan. Tapi yang penting, bertemanlah dengan tulus. Jangan berteman hanya karena mengharapkan tas.

7. BROWSING SALE ABEKANI DI SOCMED LAIN

Bagi beberapa orang, cara ini dianggap paling mudah. Namun untuk beberapa kasus, harga yang ditawarkan cukup tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari harga asli. Cara ini yang perlu dihindari oleh para penduduk AL, karena kalau ketahuan menjual atau membeli produk dengan harga diatas harga beli, bisa menyebabkan anda diblokir dari grup AL.

8. FORM PO ABEKANI

Terkadang, dari Abekani membuka Form PO tas tertentu, dengan kuota terbatas. Tapi karena waktunya tidak rutin, jangan terlalu mengharapkan cara ini. Ada form disyukuri, tidak ada form, mari kita cari cara lain.

9. BARTER DENGAN TAS, BAIK ABEKANI MAUPUN MERK LAIN

Punya tas yang cukup rare/langka, mungkin berminat membarternya dengan produk Abekani. Untuk beberapa orang ternyata cara ini berhasil lho. :mrgreen:

10. CHALLENGE DAYS

Di grup AL, setiap hari Selasa, ada yang namanya Challenge Day. Ada bermacam-macam tantangan yang bisa diikuti oleh Abekani(an) Lovers. Tidak hanya di grup AL, tapi ada grup FB lain juga yang terkadang mengadakan kuis, yang jika kita beruntung, hadiahnya berupa produk Abekani.

Cara-cara di atas adalah beberapa cara yang pernah dilakukan oleh penulis. Mungkin ada yang mau menambahkan cara lain di komen?

Seperti yang penulis tulis di judul, mengejar impian tidak semudah ucapan, tapi tidak mustahil didapat selagi kita masih mau berusaha. Jadi cara apa yang mau kalian pilih? Asal bukan dengan cara ‘mepet’ penulis ya. 😂

Daftar Kosa Kata:

– NL: Numpang Lewat. Postingan ready stock produk Abekani.

-WL: Wish List. Daftar produk yang diimpikan, biasanya lebih cepat terkabul apabila konsisten dengan 1 maxam produk, disertai kreativitas dalam postingan.

– PO: Pre Order. 

– CUSTOM PO: Custom Pre Order. PO untuk model tas yang bukan model asli Abekani. Biasanya punya koordinator masing-masing, yang disebut, Koordinator PO.

– KorWil: Koordinator Wilayah.

– Mepet: Usaha merayu si empunya Abekani yang ditaksir, supaya mau dihibahkan atau ditebus dengan rupiah.

– Embargo: Member AL yang mendapatkan slot ready stock di NL, dilarang untuk mengikuti NL berikutnya sebanyak 4x NL. Apabila tetap nekat ikut sebelum masa embargo berakhir, akan ditambahkan 4x NL lagi.

– Baper: Bawa Perasaan. Kecewa yang berlebihan sehingga komen atau memposting hal-hal yang tidak seharusnya.

– Meet Up: Acara kumpul-kumpul atau kopi darat. Biasa dilakukan oleh 2 orang dan atau lebih, dengan tujuan untuk lebih mengakrabkan diri.

Cerita dan Tips lain tentang Abekani: cerita 1cerita 2

NB: Iwapa Kulo yang ada di postingan ini merupakan hadiah dari Blog Contest Iwapa ini.

IWAPA KULO BLOG CONTEST

Episode yang memeras air mata. Antara Cinta, Jogja dan Abekani.

Standar
Episode yang memeras air mata. Antara Cinta, Jogja dan Abekani.

Ada Apa Dengan Cinta 2, saat ini memang sedang naik daun (bukan cuman ulet aja yang bisa naik ke daun), trendnya membuat orang rela antri berjam-jam supaya bisa dapetin tiket nontonnya. Jogja sendiri yang jadi lokasi syutingnya, tiba-tiba seperti dilanda angin puting beliung. Banyak orang, terutama muda-mudi, yang ingin menapaktilasi jejak yang ditinggalkan oleh Cinta dan Rangga di sudut-sudut kota romantis itu.

Namun Jogja tidak hanya sarat dengan romantismenya, Jogja juga penuh dengan kreativitas yang muncul di mana saja, kapan saja dan dalam bentuk apa saja. Salah satunya adalah pengrajin-pengrajin tas dan aksesoris berbahan dasar kulit.

Popularitas pengrajin tas lokal ini semakin meningkat ketika nama Abekani banyak disebutkan. Awalnya mungkin sama seperti Cinta dan Rangga yang mampu meraih hati para muda-mudi 14 tahun yang lalu, kemudian kemunculan keduanya kembali menggelitik generasi-generasi lawas muda yang ingin bernostalgia dengan kisah cinta masa sma. Kepopuleran Abekani sendiri tidak lepas dari ibu-ibu nona-nona cantik kekinian yang ingin merasakan kerennya menenteng tas kulit berkualitas, tanpa harus merasakan sakit ditinggalkan oleh Rangga habisnya uang belanja sebelum waktunya. Analoginya nyambung? Ya pasti nggaklah, saya cuman sedang termehek-mehek sama si Cinta saja.

Saya sendiri tau tentang Abekani sejak awal tahun 2013, seorang teman perjalanan memakai tas kulit dan membanggakan tas buatan Jogja itu. Beberapa tahun berikutnya, teman yang lain mengajak untuk mampir ke workshop Abekani, sewaktu sedang liburan ke Jogja. Saat itu situasi masih sangat kondusif, nggak seperti sekarang, keluar produk 10 yang rebutan hampir ribuan.

Sejak masuk di Abekani(an) lovers, lalu masuk ke wilayah, obrolan dengan teman nggak pernah lepas dari topik seputar tas. Hahahahaha, pasti banyak yang ngalamin juga kan? *melet-melet sambil kedip-kedip

Dalam tenggat waktu yang tidak sebentar itu, produk Abekani yang saya dapat nggak banyak, dapetnya pun juga dari hasil antrian. Tapi karena saya punya temen-temen yang sering pamer mendukung temen-temen yang lain buat dapetin tas pertamanya, nggak pernah ada istilah baper sampai sekarang. Meskipun banyak dari kami yang belum pernah ketemu muka, tapi kami suka saling bantu, saling becanda dan saling ngeledek.

Buat saya, Abekani bukan sekedar tas yang bisa memeras air mata dan bisa bikin kita bilang kamu jahat (terutama kalau nggak dapet rebutan), tapi Abekani juga penuh dengan pesan cinta, persaudaraan, perjuangan dan kesabaran yang berbuah manis.

Keuletan mbak Tunjung dan mas Adi sendiri seperti terbayar, saat tas yang diproduksi, diterima baik oleh mak-mak mbak-mbak rempong macam kita ini. sok tau banget yes akyu

Yang jelas, sampai sekarang saya sih tetap berharap bisa dapetin wh12 havana new buat si mamah horeee, wl terselubung dan iwapa edisi khusus (motivasi utama bikin postingan ini). *disambit mba Alfa

Akhirnya secara tidak langsung, Cinta, Jogja dan Abekani akhirnya tidak bisa terpisahkan Abekani(an) Lovers macam kita ini. Jadi episode-episode penguras air mata mestinya bisa sedikit berkurang, saat kita menyadari kalau tas ini bukan segalanya, tapi tas ini bisa memberikan kita teman baru, saudara baru dan tentunya penampilan baru. ditimpuk orang segrup

Cerita dan tips lain tentang Abekani: cerita 1cerita 3

Link web Abekani: http://www.abekani.com
Link Fans Page Facebook Abekani Jogja: https://www.facebook.com/abekani/

image

credit pic: Abekani(an) Lovers

Terjebak baper, koper dan putus asa saat rebutan Abekani? Simak 5 cara cepat untuk menghindarinya.

Obrolan

Untuk sebagian orang mungkin tidak tahu apa sih Abekani itu. Sejenis makanan, mainan atau apa?
Tapi buat kebanyakan mak-mak mbak-mbak kece, Abekani adalah barang populer yang cukup berat perjuangan yang harus dilalui buat ngedapetinnya. Sehingga nggak jarang, selalu malah, rebutan Abekani jadi seperti ajang pertumpahan darah, yang akhirnya menimbulkan dan menyebabkan baper, koper, bahkan putus asa berlebihan.

Kedengaran lebay? Tapi memang itu yang banyaaaak dialami oleh ratusan ribuan wanita di luar sana, termasuk saya. Iya, saya juga bisa lebay. *pelototin mata*

Abekani sendiri adalah satu dari puluhan, mungkin ratusan malah, pengrajin lokal berbahan dasar kulit yang ada di Jogja. Hasil produksinya berupa tas, dompet, juga aksesoris-aksesoris yang terbuat dari kulit sapi asli. Emang ada sapi yang nggak asli? *grin emoticon*

Trus gimana dong tips ala Abekani(an) yang bisa meningkatkan kadar kesuksesan sewaktu rebutan?
Ini lima tips konyol mudah yang bisa dicoba. Dicoba lho ya, nggak cuman dibaca.

1. Kasih tau seisi rumah, kantor, kalau perlu tetangga, waktu rebutan Abekani yang sudah diumumkan.

Nggak perlu malu menceritakan obsesi kita buat dapetin tas Abekani ke keluarga, siapa tahu keluarga juga malah mendukung. Setidaknya temen paling nggak bisa ngingetin waktu rebutan yang sudah diberitahukan sebelumnya atau tetangga nggak akan main ke rumah di saat yang nggak tepat. Temen dekat juga bisa ngasih support sewaktu kita nggak dapet rebutan, jadi cari temen yang demen banget becanda biar tetep ceria.

2. Belajar membaca dengan cepat dan teliti.

Semua yang sudah sampai ke kalimat ini pasti bisa membaca ya. Tapi dalam rebutan di Abekani, membaca semua petunjuk dengan cepat dan teliti itu sangat diperlukan. Asah kemampuan membaca kita, ada beberapa aplikasi yang bisa membantu kita membaca dengan cepat. Dapet bonus mengetik cepat lagi, ini keuntungan besar saat rebutan.

3. Perkuat 3S

3S, apa lagi ini? 3S terdiri dari Stamina, Santai dan Sinyal.
Yang pertama Stamina, kalau badan kita letih, lemah, lesu. Mau ikut rebutan pasti rasanya juga nggak semangat.
Kedua Santai, ini penting juga. Jangan gupuhan (terburu-buru). Kalau kita sudah bingung mau ngapain dari awal, pasti selanjutnya nggak tau mesti ngapain, malah gagal ikut rebutan.
Yang terakhir dan paling krusial, Sinyal. Banyak banget keluhan soal sinyal dari para Abekani(an). Coba cari tempat di rumah kalian yang sinyalnya paling bagus, dilihat dari penuhnya bar sinyal saja bisa. Ada yang pengalaman naik ke atap, ada temen yang nempel di pager rumah (credit: mba Devi 😘), saya sendiri dapet saran buat nempelin garpu atau sendok ke belakang hape. Cara ini saya coba ternyata berhasil menambah satu sampai dua bar sinyal dan berhasil dapet rebutan bleckeerPho yang lagi kekinian itu.

4. Jangan pernah ada kata menyerah di antara kita.

Buat sementara waktu, singkirkan rasa pesimis, nggak mungkin atau nggak bisa. Nekat aja tetep komen, kalau nggak bisa dapet sekarang, siapa tau dapet besok atau malah berubah jadi antrian santai. ini sih harapan kita semua sebagai Abekani(an) lovers

5. Selalu ingat pada Yang Kuasa

Jangan lupa berdoa, supaya keinginan kita dikabulkan. Setelah dapet, jangan lupa juga berterima kasih ke ‘yang kuasa’ memilih kita dapetin slot tas, dompet, pouch, etc. Kalau belum dapet, tetep berdoa. Siapa tau di lain kesempatan bisa dapetin slot yang diincar. Tidak ada yang mustahil selama kita masih mau berusaha dan berdoa.

Sebenernya masih banyak tips lain, tapi bisa dibahas lain waktu aja. Kalau kebanyakan malah bikin ngantuk. Yang pasti, yang namanya di Abekani(an) Lovers itu nggak ada kata menyerah. Semua pasti terjadi pada saatnya.

Link web Abekani: http://www.abekani.com
Link Fans Page Facebook Abekani Jogja: https://www.facebook.com/abekani/
Agak nggak rela sebenernya ngasih tau link ini, bakalan tambah banyak yang ikut rebutan. Tapi kita mesti optimis kan?

NB: udah lama banget nggak update blog ini, tapi demi IWAPA edisi khusus, apa saja akan akyu lakukan. *alaynya kumat

Cerita dan tips lain tentang Abekani: cerita 2cerita 3.

image

WACINWA (Wayang Cina Jawa)

Standar
image

Becak khas Tiongkok

Apa sih Wacinwa itu? Wacinwa sendiri merupakan singkatan dari Wayang Cina-Jawa. Wayang yang sebenarnya merupakan budaya dari Jawa, mendapat pengaruh dari budaya Cina sehingga muncullah lakon pewayangan dengan menggunakan tokoh dan cerita dari negeri Cina.

Salah satu yang unik dari Wacinwa ini sendiri, sampai saat ini hanya ada 2 set yang diketahui. Yang satu tersimpan di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta dan yang satu lagi berada di Uberlingen, Jerman.

image

Gan Thwan Sing

Wacinwa diciptakan oleh Gan Thwan Sing (1895-1967) di Yogyakarta pada tahun 1925, angka tahun pembuatan diketahui dari wayang gunungan koleksi Uberlingen.

Pada tanggal 3-10 Oktober lalu, Museum Negeri Sonobudoyo memamerkan koleksi Wacinwanya pada khalayak umum, selain pameran juga ada pagelaran wayang dan talk show membahas mengenai sejarah Wacinwa.

Secara kebetulan saya mendapat info tentang event ini dari teman di Surabaya, niat awalnya sebenarnya ingin mengajak saya melihat pertunjukan Wacinwa. Tapi tak disangka dan tak dinyana saya sendiri sudah punya acara dengan teman-teman saya yang lain untuk main ke Jogja.

Tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2014, saya (secara agak memaksa, memasukkan Museum Sonobudoyo ke itinerary) dan teman-teman, mampir ke Museum Sonobudoyo. Kami agak terkecoh, karena Wacinwa ini tidak dipamerkan di Museum Negeri Sonobudoyo, namun dipamerkan di Jogja Gallery yang berjarak hanya beberapa meter dari museum.

Saat kami datang, situasinya sangat sepi, sempat curiga kalo tutup. Tapi apa gunanya punya temen yang bisa disuruh-suruh buat nanya. Ternyata, museumnya buka dan kami pengunjung pertama pagi itu. Hahahahaha.

Sambil menunggu petugas membuka pintu dan menyalakan lampu, kami mengisi buku tamu terlebih dahulu. Di sini kami mendapat satu set buku mengenai Wacinwa dan wayang-wayang koleksi Museum Negeri Sonobudoyo. Agak kaget karena setiap orang mendapat buku yang bagus banget dan secara refleks saya bertanya, harus bayar berapa nih?

Yang bikin paling shock, adalah mendengar ibu penerima tamu bilang, ini semua gratis. Kagum juga kan dengan keseriusan masyarakat Yogyakarta untuk melestarikan budaya. Intinya setelah masuk, berkeliling melihat koleksi, yang bukan hanya terdiri dari wayang tapi juga kaset, buku cerita dan foto-foto. Saya dan teman-teman cukup excited melihat detail dari Wacinwa ini, sayang sekali kami datang di hari terakhir pameran dan tidak sempat melihat pagelaran wayangnya.

Koleksi wayangnya cukup bagus dan terawat, memang tidak sebanyak koleksi di Uberlingen. Namun koleksi yang terdapat di Jogja ini semua terbuat dari kulit, sedangkan yang di Uberlingen sebagian terbuat dari kardus.

image

Koleksi Wainwa

Escape to Medan (Day 1)

Standar

Perjalanan ke Medan kali ini cukup panjang dan penuh perjuangan (lebay kumat). Berhubung pesawat dari Surabaya sampainya sekitar jam 10.30 pm, 29 Mei 2013. Jadinya diputuskan aja buat ngemper cantik di Terminal 3, SoeHat sambil menunggu penerbangan ke Medan besok paginya.
Di Terminal 3 ini merupakan surga buat yang menunggu penerbangan selanjutnya tanpa harus keluar duit lebih untuk menginap di hotel. Terutama buat kaum backpacker nih (geret-geret ransel).

Sesudah beberapa kali pindah spot buat ngecharge HH, akhirnya diputusin aja nungguin Yopih, yang bakalan nyusul dari kos-kosannya, di lantai atas. Di lantai atas ini terdapat area yang menyediakan kursi-kursi mungil yang bisa dijadikan tempat tidur darurat. Saat baru terlelap, tiba-tiba seorang cewek cantik menggendong ransel, datang menepuk tangan saya. Yeaaayy, Yopih akhirnya dateng dan setelah penantian beberapa lama sambil ngegosip n nongkrongin cowo-cowo bule, tanggal 30 Mei 2013, sekitar jam 5 pagi (terlambat 30 menit dari jadwal), kami akhirnya berangkat juga ke Medan dari Jakarta.

Akhirnya setelah 2 jam tidur berada di kabin pesawat, akhirnya kami bisa juga menginjakkan kaki di Bandara Internasional Polonia Medan. Agak siyok kagum dengan keadaan bandara ini, dari tempat turun dari pesawat sampai ke pintu keluar, ga perlu jalan terlalu jauh (bilang aja mungil gitu).

Setelah merenung agak lama di kursi bandara, Yopih tiba-tiba mengusulkan hari itu pergi ke Bukit Lawang, TN. Gunung Leuseur. Seandainya pagi itu Peyi bisa jemput kami, ga akan ada cerita Escape to Bukit Lawang.

Menuju ke Bukit Lawang dari Bandara Polonia, kami memutuskan berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Jalan Besar (kalau berat untuk jalan kaki, bisa naik RBT atau becak motor), untuk mencari angkot nomor 63 atau 120. Setelah agak lama menunggu, akhirnya angkot nomor 63 yang menuju Pinang Baris (Kampung Lalang) datang juga. Setengah jam lebih kami berdua tempuh untuk sampai di Pinang Baris, ongkos yang kami bayar Rp. 4.000,-/orang. Pinang Baris sendiri merupakan semacam terminal kecil untuk bus, minibus dan elf di pinggir jalan.

Mesti kuat mental untuk menolak calo di sini dan kami menghindar dengan cara sarapan dulu sambil mencari info tambahan mengenai tempat ini.

Dari hasil browsing, didapat info kalau kami harus naik bus Pembangunan Semesta. Dengan pedenya kami berjalan dan menolak para calo yang memaksa kami untuk naik L300. Sewaktu ada Bus merah dengan tulisan Pemb. semesta, kami pun bertanya, ternyata bus ini tidak menuju ke Bukit Lawang. Agak lama menunggu, tiba-tiba Yopih menunjuk sebuah mobil merah dengan tulisan B.Lawang di kaca depannya. Dalam hati langsung mbatin, ini sih bukan bus tapi bison (sebutan angkutan antar kota di Surabaya).

3 jam perjalanan kami tempuh menggunakan bison bus Pemb. Semesta ini, sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan kebun sawit dan rumah penduduk. Tarif dari Pinang Baris sampai ke Bukit Lawang ini Rp. 12.000,-. Turun di terminal Bukit Lawang, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju konservasi.

20130630-133818.jpg
Jalanan menuju ke area konservasi dari terminal

Setelah bertanya ke beberapa penduduk, yang terheran-heran karena kami memilih jalan daripada naik becak, akhirnya kami sampai ke sebuah hotel. Lhoh, kok hotel? Katanya mau ke konservasi. Yah terus terang kami nyasar dan ga tahu mesti ke mana. Cuaca yang panas dan perut yang lapar membuat akal sehat membimbing kami masuk ke restoran di hotel itu.

20130630-134330.jpg
Pemandangan dari restoran hotel

Baru saja duduk, sudah ada orang yang menghampiri kami dan menawarkan jasa guide dengan setengah memaksa. Orang ini yang kemudian mengaku sebagai mas Bowo, mengaku guide resmi di daerah situ. Karena agak trauma dengan paksaan rayuan yang kami terima sejak menginjakkan kaki di Medan, kami agak judes ke mas Bowo ini.

Tapi setelah kami membandingkan dengan paket yang diberikan oleh hotel, kami merasa tawaran dari mas Bowo ini lebih menggiurkan. Jadi setelah makan, kami memutuskan untuk segera menuju tempat konservasi, apalagi kami berniat untuk pulang hari ini juga ke Medan.

Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk menuju konservasi, jalur darat yang biasa digunakan untuk trekking dan jalur sungai menggunakan rakit. Agak khawatir juga kami memilih jalur sungai, tapi menurut mas Bowo, jalur sungai lebih cepat ditempuh daripada jalur darat. Dan ternyata yang dimaksud jalur sungai itu, kami berjalan menyusuri jalanan yang ada di pinggiran sungai Bohorok. Di sepanjang jalan ini terdapat Guest House dan toko-toko souvenir.

20130630-134557.jpg

Setelah agak lama berjalan, akhirnya kami tiba juga di dekat konservasi, ini saatnya kami harus menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai.

20130630-134758.jpg
Persiapan naik ke rakit

Dari sungai, kita akan disambut oleh deretan anak tangga yang akan mengantar kita ke Gerbang Taman Nasional Gunung Leuser

20130630-140050.jpg

Setelah mengisi buku tamu, menonton film singkat mengenai petunjuk kunjungan di konservasi, kami diajak untuk menuju lokasi feeding pertama. Dalam hati saya sudah berdoa terus-terusan supaya kami bisa melihat orang utan di lokasi pertama, karena jarak anak tangga yang tinggi ditambah napas yang sudah ngos-ngosan.
Dan keberuntungan berpihak pada kami. Sewaktu ranger memberi kode kepada kami untuk segera mendekat, kami melihat seekor orang utan betina dan anaknya sedang bergelantungan. Orang utan betina ini berumur 41 tahun, menurut ranger Sukma merupakan orang utan tercantik di konservasi.

20130630-141004.jpg
Sukma dan Anaknya

Setelah puas memberi makan dan foto-foto, kami segera kembali ke terminal untuk mengejar minibus yang kembali ke Medan. Sebelumnya kami harus menyeberangi sungai Bohorok dulu. Agak kerepotan juga guide kami menyeberang kali ini, sampai sempat terbawa arus sungai. Jadi mesti ekstra hati-hati sewaktu menyeberang karena selain arus yang deras, dari arah atas sering lewat orang-orang yang melakukan tubing.

20130630-143353.jpg

20130630-144707.jpg

Seandainya waktu kami lebih panjang, ingin juga mencoba jalan darat dan mencoba menyeberangi titi gantung atau jembatan gantung. Kayanya seru tuh.

20130630-145005.jpg

Petualangan di Bukit Lawang berakhir sudah, kami pun pulang menuju Medan.

NB: untuk feeding, setiap harinya ada dua jadwal, jam 08.00 pagi dan jam 15.00 sore.

Masjid Cheng Hoo, PPS Ramadhan part 3 – end

Standar

Nah.. Akhirnya sampai juga di titik terakhir perjalanan kita di PPS kali ini. Masjid Cheng Hoo, masjid atau tempat ibadah umat Muslim tapi dengan arsitektur khas negeri Tionghoa.

Masjid yang terletak di jalan Gading ini merupakan tempat ibadah yang didirikan oleh kaum muslim Tionghoa yang ada di Surabaya.

20120801-200451.jpg
Penunjuk jalan (harus jeli melihatnya)

Masjid ini mulai dibangun tahun 2001 dan diresmikan pada tahun 2003. Pada saat peresmiannya, dihadiri oleh perwakilan dari negara China.

20120801-200901.jpg
Prasasti Peresmian Masjid Cheng Hoo

Disamping kanan masjid, terdapat relief dan replika dari kapal Laksamana Cheng Hoo. Selain replika, ada salah satu hal yang unik dari dalam masjid Cheng Hoo. Di ruangan depan tempat Imam memimpin shalat, terdapat gambar semacam pintu gereja. Hal ini dimaksudkan bahwa mereka mengakui nabi Isa AS dan mereka tidak ingin mencampuri agama lain.

20120804-105640.jpg
Replika Kapal

20120804-105751.jpg
Gambar pintu gereja

Ahh, kelupaan… Sesampainya di masjid ini, kami langsung berbuka puasa di kantinnya. Menu buka puasa kali ini adalah Lontong Cap Go Meh dan es cao.

20120804-110041.jpg

Ada cerita lucu sebenernya waktu selesai menyantap lontong ini, porsinya yang kecil bagi beberapa orang (termasuk saya), membuat sebagian dari kami mencari tambahan pengganjal perut. Dan yang saya pilih adalah….. Eng ing eng… Pentol.. Wkwkwkwkw… Tampang udah bulet juga masih doyan aja makan pentol. Jadi saya dan salah satu teman (yang akhirnya jadi kecantol ama pentol ini) memutuskan untuk lanjut mengunyah si pentol ini.

20120804-110507.jpg
Tukang Pentol yang Legendaris itu..

Sesudah selesai makan, keliling-keliling, foto-foto, saatnya kami harus kembali pulang. Tapi sebelum itu kami sempat foto bersama di lapangan masjid dengan latar belakang orang-orang yang sedang bersiap-siap ibadah taraweh.

20120804-110828.jpg
Photo courtesy of Ivana S

Disini ada beberapa orang yang gk ikut foto, ada yang karena balik duluan tapi ada juga yang karena kecantol di tukang pentol yang tadi.. *tepok jidat* *lirik samwan*

Yah.. Berakhir juga perjalanan PPS Ramadhan kali ini.. Banyak cerita menarik dan menyenangkan disini, tapi yang terutama, banyak sekali teman baru dalam perjalanan kali ini.
Sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya..

NB: gara2 koneksi yang ancur jadi baru bisa post cerita ini sekarang.. –“

Masjid Ampel dan Makam Sunan Ampel, PPS Ramadhan part 2

Standar

Kawasan Ampel atau dikenal juga dengan Kampung Arab, karena banyaknya penduduk keturunan Arab yang ada disini, merupakan titik kedua dalam PPS kali ini (yang belum tahu PPS, harap baca part 1 dari cerita ini).

Untuk menuju ke kawasan ini dari klenteng Mbah Ratu, kita akan melewati jalan Kembang Jepun yang terkenal sebagai pusat perdagangan bagi sebagian masyarakat Tionghoa.. Kawasan ini masih termasuk area dari Kota Tua yang merupakan kumpulan dari gedung-gedung tua dari jaman Belanda yang masih digunakan sampai sekarang.

Setibanya di kawasan Ampel, kita diharuskan turun dan berjalan kaki melewati lorong-lorong (gang) yang berakhir di kawasan masjid. Harus cukup jeli untuk memperhatikan penunjuk arah di sini, karena banyak sekali jalan buntu yang bisa membuat kita tersesat..

20120730-220015.jpg

Setelah melewati lorong-lorong yang penuh dengan berbagai macam penjual, baik pernak-pernik, makanan sampai perlengkapan sholat, kita akan sampai di area Masjid. Untuk mencapai area makam, kita harus menuju ke bagian belakang masjid.

20120731-002854.jpg
Suasana di dalam masjid

Untuk memasuki area makam, kita harus melepas alas kaki, bagi yang wanita harus mengenakan baju yang sopan dan penutup kepala.

20120731-003100.jpg
Gerbang area makam Sunan Ampel

Setelah memasuki gerbang, kita akan melihat pintu makam, disini antara pria dan wanita dipisahkan pintu masuk dan area untuk berdoanya, untuk menjaga kekhusukkan para peziarah.

20120731-003726.jpg

20120731-003741.jpg

Di dalam, kita akan melihat banyak sekali nisan-nisan tanpa nama, ini merupakan nisan murid dan pengikut dari Sunan Ampel. Nisan Sunan Ampel sendiri, beserta istri, berada ditengah dan dibatasi oleh pagar dan dikelilingi oleh para peziarah yang sedang berdoa.

Setelah mendengar tentang sejarah Sunan Ampel, berziarah dan foto-foto, kami pun kembali ke bus untuk menuju ke titik ke 3, sekaligus tempat untuk berbuka puasa. Sewaktu kembali, kami melewati kembali lorong-lorong yang dipenuhi oleh para penjual, juga rumah-rumah model lama.

20120731-004338.jpg
Lorong di Kampung Ampel

20120731-004444.jpg
Salah satu bangunan lama yang digunakan untuk rumah dan toko

Untuk mencapai bus, kami harus berjalan menuju terminal, karena bus hanya bisa di parkir di sana. Tapi justru di terminal ini, saya bisa mendapatkan foto sunset yang cantik.

20120731-004806.jpg

Sepertinya sunset ini menjadi penutup di titik kedua kali ini, sebagai penawar sebelum kita menuju ke titik terakhir dari PPS kali ini. Ikuti terus perjalanan ini sampai akhir yah…

*blow kiss*
bersambung…

Klenteng Mbah Ratu (Sam Poo Tay Djien), PPS Ramadhan part 1

Standar

Hari minggu kemarin, tepatnya tanggal 29-7-2012, saya mengikuti acara Pelesir Pecinan Surabaya (selanjutnya disingkat PPS), biasanya ikut sebagai panitia kali ini membaur sebagai peserta.. Selain banyak peserta baru, tour kali ini juga diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi Asia Summer Program (selanjutnya disingkat ASP) UK Petra berjumlah sekitar 20 org.

Karena berkaitan dengan bulan Ramadhan, maka tour kali ini di konsep menyesuaikan dengan kondisi bulan puasa, ngabuburit…

Meeting point pertama, seperti biasa ada di jalan BIbis no 3. Disini para peserta berkumpul dan mendapatkan pengarahan sebelum akhirnya berangkat ke titik pertama.

Oh iya, Buat yang belum tahu, PPS ini diadakan oleh Jejak Petjinan. Jejak Petjinan merupakan salah satu komunitas heritage yang berusaha untuk melestarikan dan mengenalkan tradisi Tionghoa ke masyarakat luas (promo sedikit boleh lah ya). Jadi teman-teman yang berminat bisa gabung aja dengan kita, gk harus etnis Tionghoa kok. Komunitas ini terbuka untuk semua kalangan..

Balik lagi ke acara.. Iklannya nanti kebanyakan, gk ada yang mo baca malah.

Setelah melalui proses menunggu yang cukup lama, akhirnya kami sampai di titik pertama, yaitu Klenteng Mbah Ratu (Sam Poo Tay Djien).

20120730-114239.jpg

Klenteng untuk umat Buddha ini berada di Jalan Demak dan lokasinya dikelilingi oleh pemakaman umum yang ada di jalan ini.. Agak ngeri juga sih ya, terus terang aja saya sendiri baru tau soal pemakaman ini waktu sudah berada di dalam klenteng.. Hehehehe…

Setelah memasuki gerbang utama, kita akan disambut oleh banyaknya dupa ulir yang digantung di sepanjang pintu masuk klenteng.. Hal ini menjadi salah satu pemandangan unik, karena tidak semua klenteng menggantung dupa semacam ini di pintu masuknya.

20120730-114733.jpg

Setelah itu kita akan memasuki semacam aula kecil yang digunakan sebagai tempat untuk pembelian hio atau dupa, kertas uang, kantor administrasi dan informasi. Di depan seperti biasa ada altar untuk tempat persembahan dan altar untuk dewa utama ada di bagian dalam klenteng.

Kenapa namanya klenteng Mbah Ratu?? Nah ini yang saya agak miss penjelasannya (maklum dah loncat kesana kemari aja buat foto2). Yang unik disini pokoknya meskipun ini klenteng Buddha, tapi setiap malam jumat legi, mereka masih melakukan ritual secara kejawen mengunakan nasi kuning dan kemenyan sebagai sesaji. Cukup aneh kan..

Selain ritual kejawen itu, ternyata klenteng ini menobatkan (hedeuh bahasanya lebeh) Laksamana Cheng Hoo sebagai Dewa Utama. Lhoh, padahal Cheng Hoo kan muslim.. Hehehe… Ini sebenernya sama aja ceritanya kaya di klenteng Sam Poo Kong Semarang..

20120730-115620.jpg

Yang keren lagi, disini ada kayu bagian kapal Cheng Hoo yang masih disimpan dan dirawat dengan baik. Kayu sepanjang 14 m ini gk bisa dipindahkan, setiap dipindahkan selalu balik lagi (ini rumor orang-orang sekitar). Kayu ini disimpan di bawah Altar Utama dan diberi kaca, karena banyak sekali orang yang melihat lalu mencuilnya untuk dijadikan jimat. Gk banget yah sebetulnya.. Selain itu disini juga ada jangkar kapalnya, cuman kalo mo ngambil ini juga keterlaluan banget..

20120730-120018.jpg

Sudah puas melihat-lihat dan foto-foto, kami lalu lanjut ke titik yang kedua. Kemanakah kita selanjutnya? Tunggu saja di cerita selanjutnya..

Bersambung…

Makam Belanda Peneleh

Standar

20120716-141545.jpg

Makam Belanda di Jalan Peneleh, ada yang belum tahu? Atau sudah tahu tapi belum pernah ke sana? Atau malah sudah berkali-kali ke sana?
Buat yang belum tahu, Makam Peneleh ini adalah kompleks pekuburan orang-orang Belanda maupun kerabat-kerabatnya yang ada di jalan Peneleh, Surabaya.

Yah, kali ini saya gk akan bahas soal sejarah atau asal-usul dari Makam Peneleh ini. Berhubung hari minggu, 15 juli 2012 kemaren, saya kebetulan ikut acara photowalk dari SoerabajaIGSociety di makam ini, jadilah sekarang kita membahas lokasi ini.

Di makam ini banyak sekali lokasi atau spot foto yang unik, tidak saja diatas makam, kubah, bangunan yang tidak terawat, bahkan pohon besar pun bisa jadi spot asyik.

Kebetulan juga kemaren sesi photonya menggunakan model. Baik tema glamour, gothic bahkan levitasi.. Disarankan kalo ke sini pagi atau siang, karena sore biasanya makam ini sudah ditutup. Kenapa pagi? Karena biasanya kita bisa dengan mudah mendapatkan spot foto dengan berkas-berkas cahaya yang menembus daun-daun pepohonan.

Kayanya lebih enak cerita lewat foto. Foto-foto yang ada di postingan kali ini, juga tetap sama, diambil dan diedit menggunakan kamera smartphone.
Enjoy it..

20120716-143750.jpg

20120716-143803.jpg

20120716-143818.jpg

Model: mba Rose n Nita